9/10/2013

Ahlus Sunnah, Siapakah Ahluss Sunnah Itu?

BidikSerp Blogspot: Ahlus Sunnah, Siapakah Ahluss Sunnah Itu?. Kajian ilmu tauhid tentang Timbulnya Ahlus Sunnah dan Kapan Istilah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Muncul?
Banyak definisi dari para ulama yang menerangkan tentang siapakah yang dimaksud dengan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Seorang ulama besar bernama Ibnu Hazm yang lahir di Kota Cordoba pada tahun 384 Hijriah ketika ditanya; "Siapakah yang dimaksud dengan golongan Ahlus-sunnah?" beliau mengatakan;

“Pengikut kebenaran dan siapa yang berbeda dengan mereka maka disebut sebagai ahlu-bidáh, mereka (golongan Ahlus-Sunnah) itu adalah para sahabat Rasulullah dan siapa yang berjalan sesuai dengan yang mereka contohkan yaitu dari sebaik-baik golongan tabiín, kemudian para ahli hadits serta yang mengikuti mereka dari para ulama ahli fiqih dari generasi ke generasi sampai di masa kita saat ini, begitu juga siapa saja yang mengikuti mereka dari orang-orang awam di belahan Timur dan Barat”.

Seorang ulama ahli fiqih dan pendiri Mazhab Hanafi yaitu Nu’man bin Tsabit yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hanifah pernah memberikan definisi tentang pengikut Ahlus-Sunnah wal Jamaáh, beliau mengatakan;

“Yang dimaksud dengan al-Jam’ah adalah mereka yang mengutamakan sahabat Abu Bakar, Umar, Ali dan Utsman. Dan tidak menghina seorang-pun dari para sahabat Rasulullah serta tidak mengeluarkan orang Islam disebabkan dosa-dosa yang mereka lakukan dan mereka yang mendirikan sholat pada setiap yang mengucapkan kalimat ‘La ilaha illa Allah’.

Imam Abdurrahman bin Ahmad yang dikenal dengan sebutan Ibnu Rajab Al-Baghdadi yang wafat tahun pada tahun 795 H dalam kitab Kasful Kurbah hal 11, mengatakan;

‘Ahlus-Sunnah adalah sebuah julukan yang diperuntukkan bagi golongan yang selamat dan jauh dari hal-hal bersifat subhat dan samar pada aqidahnya, khususnya dalam masalah keimanan kepada Allah I, Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul dan Hari Akhir, begitu juga dalam perkara taqdir dan keutamaan para sahabat…’.

Dalam kitab At-Tabsir Fid Din, hal.168. Abu Muzhoffar Syahfur bin Thohir Al-Isfarayini seorang ulama ahli fiqih dan tafsir yang wafat pada tahun 471 H mengatakan;

‘..Bukan termasuk golongan Ahlus-Sunnah mereka yang membenci dan mencela para sahabat Rasulullah i..’.

Abu Mudzaffir al-Isfirayini mengatakan;

“Sebab golongan ini disebut sebagai Ahlus-Sunnah karena tidak ada sebuah kelompok yang mengikuti sunnah Rasul lebih banyak dari mereka”.

Timbulnya Ahlus-Sunnah

Ada sebagian orang yang tidak mengerti tentang Ahlus-Sunnah mengatakan bahwa golongan Ahlus-Sunnah itu tumbuh dan ada sejak masa kekhalifaan Muawiyah tepatnya sejak diserahkannya kekhalifaan dari tangan Sayyidina Hasan kepada Muawiyah, tentu saja pendapat ini sangat jauh dari kebenaran orang yang berpendapat seperti itu terselip atau salah dengar antara kata-kata ‘Aamul Jama’ah‘ yang memiliki arti Tahun Persatuan dengan ‘Ahlus-Sunnah Wal Jam’ah‘.

Inti dari ajaran Ahlus-sunnah wal Jama’ah itu sudah ada sejak adanya Agama Islam dan yang meletakkan pokok dasar pemikirannya adalah Rasulullah sedang yang menerangkannya adalah ahlul-bait dan para sahabat.

Ketika ditanya “Sejak kapan timbulnya aliran Aqidah ahlus-Sunnah wal Jama’ah” seorang ulama yang bernama Abul Abbas Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim yang lebih dikenal dengan panggilan Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Mazhab Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah merupakan Mazhab klasik yang sudah di amalkan dan di ajrkan sejak zaman Rosululloh dan para sahabat2nya dan terkenal sebelum lahirnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i atau Imam Ahmad. Karena Mazhab ini sebenarnya adalah Mazhab yang dianut oleh para sahabat Rasulullah yang diterima dari Nabi Muhammad dan barangsiapa menyimpang dari apa yang dicontohkan oleh mereka maka disebut sebagai golongan Ahli Bid’ah..’.

Ketika Imam Malik ditanya tentang siapa yang dimaksud dengan golongan Ahlus-Sunnah, beliau menjawab “Ahlus-sunnah itu adalah sebuah golongan yang tidak memiliki gelar tertentu seperti Jahmi, Rafidhi atau Qadariy“.

Hadita Iftiraqul Ummah

“Hadits yang berbicara tentang akan terpecahkan umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani, dan semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu mereka yang mengikuti sunnahku dan para sahabatku“.

(HR.Abu Daud, Kitab As-Sunnah, aunul Ma’bud, 12/341-342 no. 4573. Sunan Darimi, 2/241, Musnad Imam Ahmad, 3/102, Imam Hakim, 1/128 dan Al-Ajiri dalam kitabnya As-Syariah, 18. Imam Hakim menshahihkan riwayat ini dan disetujui oleh Imam Dzahabi. Berkata al-Muqbili (Al-Ilmu Syami’, 414) “Hadits yang berbicara tentang perpecahan umat riwayatnya banyak sekali sekali satu sama lainnya saling menguatkan”. Berkata Ibnu Taimiah (Fatawa 3/345) Hadits yang Iftiraqul Ummah ini terkenal di dalam kitab-kitab Sunan dan Masanid”.

Hanya para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan kalimat “Semua di neraka kecuali satu” berkata Imam Syaukani “Riwayat ini banyak dilemahkan oleh para ulama” dan menurut Ibnu Hazm “kalimat ini riwayatnya palsu”.

Berkata Syaik Al-Bani “Pengingkaran Imam Syaukani tidak dapat dibenarkan sebab tidak ada seorang-pun dari ulama terdahulu yang melemahkan tambah tersebut bahkan mereka menshahihkannya, sedang perkataan Ibnu Hazm itu tidak dijelas terdapat di kitab apa ? (Perkataan Ibnu Hazm ini terdapat di dalam kitabnya Al-Fasl 4/16) Dan kalaupun benar itu pernah dikatakan oleh Ibnu Hazm maka kita dapat membahntahnya dengan dua hal;

Sejak kapan istilah golongan Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) muncul ?

Paling mudah melacak periode awal kelahiran terminologi (istilah) Aswaja dimulai dengan lahirnya madzhab (tauhid) al-Asy’ari dan abu Manshur al-maturidi. Tetapi kelahiran madzhab Aswaja di bidang kalam ini tidak dapat dipisahkan dengan mata rantai sebelumnya, dimulai dari periode ‘Ali bin Abi Thalib KW. Sebab dalam sejarah, tercatat para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi SAW, sebelum munculnya paham rofidhoh (syiah) dan Mu’tazilah (wahhaby). Imam Aswaja pada saat itu diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib KW, karena jasanya menentang penyimpangan khawarij tentang al-Wa’du wa al-Wa’id dan penyimpangan qodariyah tentang kehendak Allah SWT dan kemampuan makhluk. Dan penyimpangan Aqidah oleh Abdullah ibnu saba' yang menghembuskan jaran caci maki pada para sahabat Rosululloh.

Di era tabi’in, muncul beberapa imam yang mngemban misi Ahlussunnah wal Jamaah, diantaranya, Umar bin Abdul Aziz dengan Risalahnya “Risalah Balighoh fir Rodd ‘alal Qodariyyah, Zaid bin Ali Zainal Abidin, Hasan al-Bashri, as-Sya’bi dan az-Zuhri. Setelah generasi ini, muncul imam Ja’far bin Muhammad Shodiq. Dari ulama-ulama fiqh dan imam madzhab juga ada yang ikut-ikut meng-counter paham-paham yang melenceng ini, diantaranya, imam Abu Hanifah dengan karyanya al-Fiqhul Akbar, Imam Syafi’I dengan karyanya Fi Tashhihin Nubuwwah war Rodd ‘alal Barohimah dan ar-Rodd ‘alal Ahwa.

Setelah periode imam Syafi’i, muncul muridnya yang berhasil menyusun paham aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, di antaranya Abul Abbas ibnu Suraij. Generasi sesudah itu baru muncul imam Abul Hasan al-Asy’ari yang popular sebagai salah seorang penyelamat aqidah keimanan, lantaran keberhasilannya membendung paham Mu’tazilah.

Dari mata rantai data di atas, yang sekaligus sebagai dalil histories, dapat dikatakan bahwa aqidah Ahlussunnah wal Jamaah secara substansif telah ada sejak zaman sahabat. Artinya paham Ahlussunnah wal Jamaah tidak sepenuhnya bawaan Abul Hasan al-Asy’ari. Sedangkan apa yang dilakukan oleh imam Abul Hasan al-Asy’ari adalah menyusun doktrin paham Ahlussunnah wal Jama’ah secara sistematis, sehingga menjadi pedoman atau madzhab umat Islam. Sesuai dengan kehadirannya sebagai reaksi terhadap munculnya paham-paham yang ada pada zaman itu.

Corak khusus madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah ini adalah lebih mengedepankan al-Qur’an dan al-Hadits daripada Akal. Artinya akal harus sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits, bukan al-Qur’an dan al-Hadits yang disesuaikan dengan akal. Dalam bidang Tauhid atau Aqidah, Para ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah menggunakan dua istilah dalil, yaitu dalil Naqli dan dalil Aqli. Dalil Naqli merupakan dalil yang di ambil langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits, sementara dalil Aqli adalah dalil yang berdasarkan pemikiran akal yang sehat. Sebagaimana pendapat imamul a’dzom Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang memposisikan al-Qur’an dan al-Hadits pada posisi primer, sementara Akal diletakkan pada posisi sekunder. Hal ini sangat berseberangan dengan madzhab Mu’tazilah yang cenderung memposisikan akal di atas segala-galanya.

Imam Abu Hasan al-Asy’ari (260-324 H) asalnya adalah pengikut setia golongan mu’tazilah. Tetapi semakin menekuni ajaran Mu’tazilah, beliau semakin melihat banyaknya celah dan kelemahan yang ada dalam ajaran-ajarannya, akhirnya ketika berusia 40 tahun beliau memutuskan dan menyatakan keluar dari Mu’tazilah. Tetapi jalan yang di hadapinya setelah itu tidaklah licin dan tanpa hambatan. Sebagai bekas Mu’tazilah dan masih dalam skup yang sama, yaitu menggunakan metode filsafat dalam argumentasi-argumentasinya. Bagi sebagian orang beliau masih tetap mencurigakan dengan pemikiran-pemikirannya, bahkan tidak sedikit orang yang menuduhnya menyeleweng dan kafir. Dalam karya-karya tulisnya yang terkenal seperti, al-Ibanatu ‘an Ushulid Diyanah, Risalah fi Istihsanil Khoudl fi Ilmil Kalam, al-Luma’ dan Maqolatul Islamiyyin Wakhtilaful Mushollin, menggambarkan betapa imam Asy’ari membela diri dari serangan berbagai kalangan dan bagaimana dalam perjuangannya mengkonsolidasikan pendapat-pendapatnya, dan seruan-seruannya tentang betapa pentingnya mempelajari Ilmu Kalam.

Perumus paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah selain imam Asy’ari adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi atau lebih dikenal dengan sebutan imam Maturidi. Beliau lahir di daerah Maturid dan wafat di Samarkand pada tahun 333 H. Beliau adalah pengikut madzhab Hanafi. Maturidiyah dan Asy’ariyah dilahirkan dalam kondisi social dan pemikiran yang serupa. Kedua aliran ini datang untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang menyerukan agar mengambil sikap tengah di antara ekstrimitas kaum rasionalis dan ekstimitan kaum tekstualis (tawasuth Bainat Tafrith wal Ifroth). Keduanya secara bersama-sama membendung dua kecenderungan ekstrimitas dalam pemikiran Islam yang melanda kala itu. Kalaupun keduanya kadang ada perbedaan pendapat, itu hanyalah dalam hal yang menyangkut masalah cabang dan detailitas semata.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tathhirul Janan wal Lisan berkata, Jika dikatakan siapakah yang dimaksud Ahlissunnah, maka yang dimaksud adalah para pengikut Abil Hasan al-Asy’ari dan Abi Manshur al-Maturidi. Keduanya adalah pelopor gerakan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam ilmu Tauhid. Bahkan Ibnu Taimiyah mengakui akan jasa golongan Asy’ariyah dalam rangka menyelamatkan sendi-sendi ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fatawi-nya dari pernyataan Abu Muhammad al-Juwaini, “Para Ulama’ adalah penolong ilmu-ilmu agama, sedangkan Asya’iroh adalah para penolong ushuluddin”....

Related Posts: Ahlus Sunnah, Siapakah Ahluss Sunnah Itu?

Popular Posts